Berita

Kedokteran Herbal Unggulan FK UMP

Rencana Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto (FK UMP) untuk menjadi salah satu pengembangan kedokteran herbal di Indonesia tidak main-main. Berbagai upaya yang mengarah pada hal tersebut senantiasa dioptimalkan. Salah satunya adalah dengan menggelar sejumlah forum ilmiah untuk mengkaji perkembangan terkini dari kedokteran herbal. Seperti yang dilakukan FK UMP pada Minggu, (8/1), dengan menggelar kuliah umum bertajuk “Interprofesional Education Akupuntur dan Asuransi Kesehatan”, FK UMP ingin sosialisasikan keberadaan kedokteran herbal sebagai salah satu alternatif dari pengobatan medis. 

 

 

 

Dekan Fakultas Kedokteran  Dr. H. Mambodyanto, SP, SH, M.Kes (MMR) mengatakan, salah satu alasan mengapa kedokteran herbal juga harus dikembangkan, karena besarnya potensi sumber daya alam yang ada di Indonesia. Mambodyanto memastikan, Indonesia memiliki tanah yang subur dan berbagai tumbuhan, rempah-rempah yang memiliki khasiat baik bagi kesehatan. Dengan kondisi tersebut, jika Indonesia tidak mengembangkan hal ini dengan cepat, maka potensi pengobatan herbal akan dikuasai negara lain, padahal, beberapa bahan bakunya berasal dari Indonesia.“Sekitar 30% bahan baku obat herbal Cina berasal dari Indonesia. Istilahnya jangan sampai kita ekspor kayu, kemudian kita impor meja kursi kayu. Seharusnya kita yang ekspor meja dan kursinya,” katanya.

 

 

 


Sementara itu, Rektor UMP Dr. H. Syamsuhadi Irsyad, MH memastikan dukungannya terhadap penyelenggaraan forum ilmiah yang dapat lebih mengkaji pengembangan pengobatan herbal di Indonesia. Hal ini menurut rektor, perlu dioptimalkan dengan baik karena Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman tanaman berlimpah. Rektor meyakini kedokteran berbasis herbal juga ampuh dalam mengobati berbagai masalah penyakit, maka keberadaannya harus dapat dikembangkan secara ilmiah dengan tekun.

 

 

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Pusat dr. Kemas Abdurrohim, MARS, M.Kes, Sp.Ak, menjelaskan, meski negara pertama yang terkenal dengan herbal dan akupunturnya adalah Cina, namun Indonesia bisa lebih baik. Hal itu, menurutnya, dikarenakan tipologi tanah di Indonesia sangat subur sehingga bisa untuk ditanami berbagai jenis tanaman obat herbal. “Cina pun secara tidak langsung menggantungkan bahan baku obat herbal dan keakupunturannya dari Indonesia,” katanya.

 

 

 

 

Terpisah, narasumber kedua, kepala dinas kesehatan Purbalingga drg. Hanung Wikantono, MPPM lebih banyak memaparkan tentang manfaat asuransi. Menurutnya, selain cara mengobati, jaminan kesehatan masyarakat juga sangat penting. Dengan keikutsertaan dalam program jaminan kesehatan masyarakat maka akan dapat lebih meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. “Dengan asuransi, masyarakat dapat terbantu dalam hal pembiayaan kesehatannya. Kolaborasi yang diciptakan antara akupuntur, asuransi dan herbal bisa menjamin kesehatan masyarakat secara masif,” tandasnya mantap. (Bgn/Pra)